Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

Cangkir yang Cantik


Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum !"

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.

Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

***

Teman, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Allah membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah.

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Allah sedang membentuk Anda. Bentukan -bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai.Anda akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk Anda.

Rabu, 16 November 2011

Cinta Terbalas, Namun ku Tolak


             Masa-masa SMP adalah masa anak remaja yang diperbudak oleh cinta monyet mereka. Alhamdulillah aku terlahir dari orangtua yang mengerti tentang agama. Jujur aku juga menyukai beberapa cowok waktu itu, tetapi aku tidak sampai melakukan pacaran karena pacaran itu sama dengan zina. Alhamdulillah aku tetap istiqomah dijalanNya.
            Ada beberapa pria disekolahku yang menyatakan cintanya kepadaku namun ku tolak karena rasa takutku kepada Allah begitu besar jadi aku tolak mereka semua. Ada dua cowok yang kutaksir pada saatku SMP. Sebut saja Fajar dan Yusuf, aku naksir dengan fajar pada saat aku kelas 7 dan awal kelas 8 sampai akhirnya Yusuf datang dikehidupanku dan aku masih punya perasaanku dengannya sampai sekarang.

Awal-awal aku suka Fajar,
            Dia adalah kakak kelasku. Badannya tinggi dan putih. Aku mulai menyukainya pada saat aku dan dia mengikuti ekskul yang sama yaitu ekskul Taekwondo dan Rohani Islam (Rohis). Awalnya ku merasa biasa saja dengannya tetapi kenapa lama-lama rasa itu muncul tiba-tiba tanpa izin. Aku sering cemburu kalau Fajar suka dekat dengan cewek lain aku tidak tahu berapa cewek di sekolahku yang menyukai dirinya mungkin banyak.
            Selama ini aku tidak pernah berkata sedikit pun dengannya sampai ia lulus. Pernah aku geer setengah mati pada saat LDK Rohis dia bertanya kepada temanku ‘zafira, mana?’. Lalu sahabatku sebut saja Lia langsung menghampiriku lalu dia berkata “ za.. dicariin tuh sama ka Fajar “. Ada perasaan ingin menemui dia tapi aku benar-benar tidak kuat untuk menemuinya. Akhirnya ku urungkan hati ini untuk menemuinya.
            Ada satu kejadian pada saat aku ikut ekskul Taekwondo. Dia menegurku karena tendanganku salah dan dia memberikan contoh yang benarnya. Sampai akhirnya dia lulus dari tingkat SMP. Aku hanya bisa merelakannya dan berdoa semoga dia bisa mendapatkan sekolah yang dia inginkan. Dan aku berusaha mencari informasi dimana ka Fajar sekolah sekarang ternyata dia masuk di SMK Farmasi Jakpus. Dengan pesimisnya diriku aku pesimis tidak bisa bertemu dia lagi tetapi entahlah kehendak sang maha esa.
Sampai akhirnya ada seseorang yang mengisi hatiku kembali,
            Ialah Yusuf seorang murid dari pondok pesantren di Jawa Timur. Aku kenal dengannya di sebuah program sekolah pada bulan Ramadhan yang biasa disebut sanlat atau pesantren kilat. Dia dan teman-temannya yang mengisi kegiatan itu disekolah dia dan teman-temannya yang mengajarkan kami semua pada saat itu. Awalnya aku aneh melihat dirinya karena pada saat dia ngajar dia memperkenalkan sebuah permainan dan aku tidak mengerti bagaimana cara mainnya sampai-sampai aku disoraki oleh teman-temanku.
            Aku mulai dekat dengannya di sebuah jejaring sosial. Dia yang pertama memintaku berteman disebuah jejaring sosial. Awalnya aku tidak mengetahui ini siapa karena fotonya di foto profil tidak begitu jelas. Sampai akhirnya dia sering mengomentari apa yang aku post di jejaring sosial tersebut dan aku pun membalas komentar dia.
            Sampai akhirnya aku sering chat dengannya dan sms-an dengan Yusuf. Ku akui banyak juga perempuan yang menyukainya. Umurnya dua tahun diatasku. Dia sudah mempunyai banyak mantan pacar. Pernah aku sangat kesal dengannya karena message aku tidak di balas terus wall dariku pun juga tidak dibalas. Sampai-sampai aku sms ke dia seperti ini ‘ assalamualaikum kak.. kok sms aku tidak pernah dibalas ya? Dan wall dariku juga tidak kaka balas ada apa ya? Maaf kalau aku ngomong seperti ini ‘.
            Dan pagi-pagi sekali dia membalas sms ku ‘ wa’alaikumsalam ini Yusuf maaf ini siapa ya? ‘ ucapnya dalam sms. Kenapa Yusuf lupa sama aku, ucapku dalam hati. Lalu aku jelaskan tentang diriku dan dia kembali ingat kepadaku. Setelah beberapa hari aku pun tahu apa yang menyebabkan dia melupakanku ternyata dia mempunyai seorang pacar baru.
            Sampai akhirnya dia harus balik ke pondok. Dan sebelum dia kembali ke pondok aku mengirim message ke dia dalam bahasa inggris ‘ I know it’s time to leave, but you’ll be in my dreams ‘ aku berharap dia membacanya walaupun dia tidak harus membalas sms dariku itu.
            Selama ini aku belum pernah mengobrol langsung dengannya. Hanya mengobrol di dunia maya.

            Sedikit informasi aku ketahui setelah beberapa hari dia balik ke pondoknya ternyata dia meminta putus kepada pacarnya yang baru. Sedihnya mereka tidak jadi putus karena pacarnya memaksa tidak ingin putus darinya.

Kepulangan dirinya dari pondok pesantren,
            Aku tidak tahu informasi sedikit pun dia pulang dari pondok. Tiba-tiba ada sms masuk dari nomor yang tidak ku kenal di dalam sms tersebut dia mengajakku untuk kesebuah tempat dan dia akan menjemputku di sekolahku. Setelah ku tanya siapa yang mengirim sms tersebut dia hanya menjawab nanti kamu juga akan tahu.
            Dengan rasa penuh penasaran siapa yang meng-sms diriku semalam untuk mengajakku kesebuah tempat akhirnya aku tungguin dia juga di depan gerbang. Setelah beberapa menit terlewati datanglah seorang pria menaiki motor ninja dengan helm. Kemudian pria itu membuka helmnya dengan rasa terkejut aku langsung berteriak   
“ kakak.. “ ucapku terkejut.
“ ini pakai helmnya “ pinta ka Yusuf.
Dengan segera aku mengambil helm dari tangan kak Yusuf dan segera naik keatas motor besar itu. Kak Yusuf melesatkan motornya dengan sangat cepat dan sampailah kami di sebuah tempat makan yang terlihat begitu romantis.
“ kita ngapain ka kesini? “ tanyaku dengan wajah bingung.
“  Nia belum makan siang kan? Apa tempatnya Nia tidak suka? “ tanyanya kembali.
“ Nia suka kok! tempatnya bagus, tapi apa tidak terlalu mahal makan disini? “ tanyaku dengan muka innocent.
“ Nia tenang ajah ya yang penting Nia kenyang dan senang “ jawabnya dengan penuh perhatian.
            Tanpa babibu lagi kak Yusuf langsung menggandeng tanganku menuntun kedalam. Dan kak Yusuf memilih tempat yang sangat romantis disana. Kemudian kami segera memesan makanan. Disaat aku sedang menikmati makanan restoran tersebut tiba-tiba tangan dingin itu menggenggam tanganku penuh perhatian.
Dan pada saat itu kak Yusuf menyatakan cintanya kepadaku. Dalam hati berteriak kegirangan sangat girang ternyata cintaku terbalas cintaku terbalas, ucapku dalam hati berulang-ulang kali.
            Ada sesuatu yang membuatku bingung bukannya kak Yusuf masih mempunyai pacar. Setelah kutanyakan kepadanya ternyata pacarnya mengkhianati dia. Pacarnya yang dulu ternyata CLBK (cinta lama belum kelar) dengan mantannya. Jadi setelah dia pulang dari pesantren pacarnya minta putus sama kak Yusuf.
            Sampai saat ini aku belum membalas cintanya. Selama perjalanan pulang aku hanya diam dan kak Yusuf pun sama-sama diam seperti orang yang baru kenal. Sekitar pukul jam 10 malam aku mengirimkan sms kepadanya “ siapa yang tidak tertarik dengan cowok seperti kakak. Beribu-ribu perempuan pasti tertarik dengan kakak. Tetapi aku serahkan perasaan ini kepada-Nya sang maha kuasa. Aku takut bila perasaan ini akan menjadi dosa. Aku hanya minta kepada kakak hanya untuk menjadi temanku terlebih dahulu biarkan nanti jodoh Allah yang tentukan “.

Keesokan harinya,
            Dia kembali menjemputku disekolah. Di perjalanan dia mengatakan bahwa dia terima keputusanku. Dan dia hanya meminta satu permintaan kepadaku jangan pernah melupakannya dan putus kontak denganku. Insya Allah aku bisa menjalankannya.
            Akhirnya kami kembali berkomunikasi seperti biasa seperti dulu. Hingga waktu memisahkan kembali aku dengan kak Yusuf. Sehari sebelum kak Yusuf balik ke pesantren dia mengajakku ketemuan di food court di sebuah mall. Disana dia kembali menggenggam tanganku dan dia memberikan sebuah kalung berinisial namaku dibalik kalung itu terdapat inisial kak Yusuf ternyata kalung itu sepasang kak Yusuf juga mempunyainya sama persis. Kalung ini hanya sebagai simbol persahabatan.
            Sebelum dia balik ke pondok dia hanya mengatakan “ tunggu aku ya “ dan “ jaga diri baik-baik ya, nanti setiap seminggu sekali aku akan meneleponmu “. Aku melambaikan tanganku dari luar bis yang dinaikinya.
            Hari-hari bila tanpanya tidak akan berwarna. Alhamdulillah aku bisa menahan perasaan ini agar tidak dapat masuk kedalam lubang dosa lebih dalam lagi.

                                                                   TAMAT

Sabtu, 12 November 2011

Cahaya kehidupan dibalik sebuah jendela



Sejuknya pagi ini menggelitikku agar aku bangun pada pagi ini. Langsung aku buka jendela kamarku secarik cahaya masuk ke kamarku bergantian.Terlihat di seberang sana seorang pemuda yang umurnya 2 tahun diatasku juga membuka jendela bersamaan, dia hanya memandangku sekilas dan langsung membalikkan badan dan sekarang yang kulihat punggung seorang diri.
“ Mira.. bangun sayang! “ panggil ibuku dari bawah. Panggilan ibu menyadariku yang bengong dibelakang jendela kamarku.
“ iya mam.. ini mira baru mau turun kok “ jawabku yang baru saja tersentak.
    Aku seorang gadis berusia 14 tahun dengan nama Amira Dewi. Aku bersekolah di SMP Pelita kelas 9. Aku seorang anak tunggal, aku tidak tahu bagaimana rasanya punya adik ataupun punya kakak. Aku tahu aku sudah kelas 9 dan aku harus mempersiapkan semuanya agar aku dapat lulus dengan nilai yang memuaskan.
    Hari demi hari aku menjalani hari aku berusaha mempalingkan diriku dari apapun kecuali belajar dengan tujuan satu yaitu lulus dengan nilai yang memuaskan. Tetapi bayang-bayang dibalik jendela itu masih ada di benakku. Sampai akhirnya aku dapat memalingkan hatiku pada pria dibalik jendela itu.
    Dan akhirnya sampai aku tinggal menunggu detik-detik menuju Ujian Nasional. Aku berusaha untuk memuaskan nilaiku. Sampailah aku dipenghujung ujian yaitu Ujian Nasional aku mengerjakan dengan tenang tetapi teliti. Aku berdoa terus menerus sampai adanya pemberitahuan tentang hasil Ujian Nasional itu.
    Aku tergesa-gesa mencari namaku di mading ternyata aku terdapat di urutan ke-3 dari seluruh siswa rasa syukur kupanjatkan ke hadirat tuhan yang maha esa.
    Orangtuaku bangga kepadaku karenaku mendapatkan hasil yang memuaskan. Dan mereka menghadiahkanku untuk jalan-jalan bersama mereka ke Jogja. Aku langsung berteriak senang dalam hatiku.








Keesokan Harinya,
        “ mam.. sudah siap belum? “ panggilku yang sudah tidak sabar untuk segera berangkat.
“ ini lagi siap-siap sayang “ jawab mamaku.
“ cepetan ya ma.. mira udah tidak sabar lagi nih! “
“ oke.. oke.. “
        Aku bersama keluargaku pergi ke Jogja menggunakan mobil ayahku. Kami banyak bercanda selama di perjalanan. Sesekali aku dan orangtuaku mampir ke SPBU untuk beristirahat dan makan disana. Walaupun aku anak tunggal tapi aku senang mendapatkan orangtua yang selalu menyayangiku selalu.
        Sesampainya kami di DIY. Yogyakarta, ayah langsung membawa mobilnya ke sebuah hotel yang cukup mewah menurutku. Lalu ayah langsung melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis untuk memesan kamar. Aku dan orangtuaku mendapatkan kamar nomor 314 malam ini aku dan orangtuaku tidur dalam satu kasur aku tidur ditengah mereka seperti aku dulu kecil. Sebenarnya ini keinginan orangtuaku, aku tidak tahu mengapa mereka ingin tidur denganku seperti dulu aku kecil.
        Besoknya kami berencana untuk pergi ke Candi Borobudur, Prambanan. Di Borobudur tak bosan-bosannya aku berfoto ria di sebuah batu besar yang biasa disebut Borobudur itu. Ada cerita yang terkandung dibalik candi tersebut. Sama halnya dengan Prambanan terdapat cerita tentang Roro jonggrang yang mengandung amanat tersendiri.
        Pulang dari Candi Borobudur dan Prambanan aku langsung merebahkan diriku diatas kasur hotel itu. Empuk, nyaman, harum yang kurasakan diatas kasur itu. Tiba-tiba pikiranku melayang kembali memikirkan sosok dibalik jendela itu. Yang aku tahu tentang dirinya kalau tidak salah Yudha dia aktif dalam karang taruna di RT-ku dan dia 2 tahun diatasku.

Hari Ke-3 di Jogja,
        Ini hari terakhir ku di Yogyakarta. Dan aku menghabiskan hari terakhir ini untuk berbelanja. Tapi ada perasaan yang mengganjal dihatiku, aku berusaha untuk menghilangkan perasaan ini karena yang ingin kurasakan perasaan senang.
       


Ayahku membawa mobil ke sebuah tempat perbelanjaan yaitu di Malioboro. Aku memborong banyak souvenir dan baju. Ketika sedang memilih baju aku melihat sepotong baju yang unik namun keren dan baju ini sepertinya untuk cowok. Namun aku membeli baju ini dan berniat memberikannya kepada yudha. Tiba-tiba Mama bertanya kepadaku.
“ baju itu untuk siapa mir? “ Tanya mama bingung.
“ hah? Oh.. ini baju untuk aku lah ma “ jawabku gugup.
“ tapi sepertinya ini untuk laki-laki “ celetuk mama.
“ masa sih ma?. “
Tapi mama sepertinya menghiraukan hal itu.
        Dalam perjalanan pulang dadaku semakin terasa tidak enak. Sekarang pukul 22.00 tapi tumben ayah tidak istirahat dulu di SPBU untuk tidur malam. Dari kejauhan aku melihat sebuah mobil pengangkut barang yang sepertinya hilang kendali. Tapi ternyata ayah tidak bisa menghindarinya dan akhirnya terjadi tabrakan yang cukup serius antara mobil ayah dan truk tersebut.
        “ ayah.. mama.. ayah.. mama.. “ ucapku berulang kali.
Lalu aku sadarkan diri aku melihat ke sekelilingku sepertinya aku berada di rumah sakit dan aku melihat sekujur tubuhku yang penuh darah.
Lalu aku melihat kesebelah kanan disana terdapat kedua orangtuaku yang terlihat belum sadarkan diri    dan terlihat mereka keadaannya lebih parah dariku.
        Aku tak kuasa melihat kedua orangtuaku aku hanya berharap aku bisa berkumpul lagi dengan orangtuaku. Lalu aku dibawa kesebuah ruangan seperti ruangan operasi sepertinya ada beberapa tubuhku yang harus dijahit. Aku kembali sadarkan diri dan sepertinya aku sudah dibawa ketempat ruang rawat dan aku gerakan kepalaku kesebelah kanan ternyata ada sesosok pria dibalik jendela itu.
        Tetapi aku tidak memikirkan dia yang kupikirkan hanya orangtuaku kemana orangtuaku.
“ ayah.. mama.. dimana? “ ucapku yang membutuhkan sebuah jawaban.
“ mira.. minum dulu ya “ tawarnya kepadaku.
“ ayah.. mama.. dimana? “ ucapku kembali.
Dia langsung menggenggam tanganku seperti ada hal yang serius.
“ mira.. ayah dan mama kamu sudah ada disisiNya “ ucapnya.
“ ayah.. mama.. dimana? Mira mau ketemu mama sama ayah “ bentakku.
“ tetapi mira tidak boleh kemana-kemana dulu karena mira habis dijahit” jelasnya.
“ pokoknya mira mau ketemu ayah dan mama “ bentakku kembali.
        Aku pun nekat turun dari kasur. Tetapi pria itu segera mencegahku yang ingin turun dari kasur.
“ mira tunggu disini ya.. aku mau ambil kursi roda dulu “ ucapnya dengan lembut. Begitu ceepatnya dia mengambil kursi roda. Kemudian dia langsung menuntun ku dari kasur sampai ke kursi roda. Lalu dia membawaku kesebuah kamar yang biasa disebut kamar mayat disana terdapat ayah dan ibu yudha. Aku langsung menghampiri ayah dan mama yang terbaring lemas tak bernyawa aku berusaha agar air mataku tidak mengenai jenazah ayah dan mamaku.
        “ rencananya besok ayah dan mama mira akan dikuburkan ” ucap orangtua Yudha.
“ mira besok mau melihat ayah dan mama dikuburkan “ ucap mira yang berlinangan air mata.
“ besok mira boleh kok melihat ayah dan mama mira dikuburkan, sekarang tugas mira hanya cukup mendoakan orangtua mira supaya diterima disisiNya “ ucap orangtua Yudha.
        Aku tidak bisa tidur semalaman yang ku bisa lakukan hanya menangis dan menangis.
“ kok belum tidur? “ Tanya Yudha kepadaku.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku aku tak kuat untuk menjawab pertanyaannya.
“ ini tisu sebaiknya kamu hapus air matanya lalu tidur oke! “ pintanya.
“ terima kasih “ ucapku yang langsung menghapus air mata di sekitar mataku.
        Yudha tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orangtua rasanya terpukul sekali, ucapku dalam hati.
“ mira kamu tenang saja nanti orangtuaku akan mengangkat kamu sebagai anak dan aku akan menjadi kakakmu kelak nanti “ ucap Yudha yang menenangkan hatiku.
“ sekali lagi terima kasih ya karena kamu dan orangtuamu sudah baik kepadaku aku harus menggantinya dengan apa? “ aku kembali menangis karena kebaikan hati pria ini.
“ kamu tidak perlu menggantinya dengan apa-apa “ ucapnya dengan kata yang lembut.
        Tiba-tiba aku langsung memeluk pria ini karena kebaikannya.Ya Allah terima kasih kau telah hadirkan orang terbaikmu dikehidupanku.









Hari pemakaman orangtuaku,
        Dia mendorongku kemana dengan kursi roda ini selalu ada disampingku. Aku berada didekat orangtuaku dan tak ada henti-hentinya aku mengeluarkan air mata ini. Yudha segera memberikan aku sapu tangannya. Aku pun menerimanya.
        Yudha menuntunku menuju mobilnya. Untuk mengantarkan orangtuaku ke pemakaman. Aku berusaha dengan sekuat hati untuk menahan air mata ini, karena aku tak ingin orangtuaku tidak tenang disana. Tetapi dalam hati aku masih menangisi kepergian orangtuaku.
        Akhirnya aku menyaksikan orangtuaku terakhir kali. Sungguh sangat membuat ku terpukul. Aku dan Yudha lah yang terakhir meninggalkan makam orangtuaku. Aku berdoa banyak untuk kedua orangtuaku. Kebetulan makam ayah dan ibu berdampingan. Dan aku tidak ingin makam kedua orangtuaku dihias-hias karena itu tidak ada ajarannya.
“ kita pulang yuk? “ ajak Yudha kepadaku.
Aku hanya bisa menganggukan kepala tidak kuat untuk berkata.
        Sesampainya di rumah Yudha aku diantarkan ke kamar yang sudah disediakan oleh orangtua Yudha. Kamarku berada di sebelah kamar Yudha. Dia meninggalkan diriku di kamarku supaya aku dapat menenangkan diri.
        Hatiku masih dalam keadaan terpukul atas semua kejadian ini aku biarkan air mataku yang memaksakan untuk keluar. Aku rebahkan diriku di kasur empuk ini sambil ku memandang keluar jendela terdapat diseberang sana sebuah rumah kehangatanku bersama orangtuaku.










Saat makan malam,
        “ mira.. makan yang banyak ya! Supaya cepat besar “ ucapnya penuh perhatian.
        “ oh.. iya “ jawabku seadanya.
Aku kangen saat seperti ini bersama ayah dan mama. Makan bersama dengan mereka terasa sangat nikmat. Aku akan berusaha menerima mereka sebagai keluargaku. Pada saat semua sibuk menatap makanannya sendiri ibunya Yudha terlihat ingin mengatakan sesuatu.
        “ mira.. “ panggil ibu Yudha.
        “ iya tante “ jawabku.
        “ mamamu memberi wasiat rumah orangtuamu akan dijual dan hasil penjualannya akan tante serahkan ke kamu semua “ jelas tante.
        “ oh.. tidak usah tante uang itu untuk tante saja. saya ada disini saja sudah bersyukur banget pada Allah dan berterima kasih sekali sama tante “ tolakku dengan halus.
        “ tetapi ini wasiat mamamu, sayang “ ucap tante menyakinkan.
        “ ya.. sudah tante kalau memang itu wasiat dari mama akan aku terima semuanya “ ucapku halus.
        “ yasudah kalau begitu. Ayo makannya dihabiskan sayang! “ tegur ibu Yudha halus.








Setelah beberapa hari,
        Aku menjalani hari-hari ku dengan hati yang berusaha untuk ikhlas atas segala yang tuhan beri. Aku merasa senang karena sekarang aku sudah mempunyai saudara baru seorang kakak yang sangat baik kepadaku yaitu dia pria dibalik jendela.
        Hari ini hari pertama aku menjalani sekolah di tingkat SMA. Aku bersekolah satu sekolah dengan kakakku yang baru. Aku kelas sepuluh sedangkan dia kelas dua belas.
        “ mira.. sudah siap belum? “ tegur kakakku dari bawah.
        “ tunggu sebentar kak! “ jawabku dari atas.
        “ kakak tunggu di halaman ya “ ucap Yudha halus.
        “ oke.. oke.. kak “ jawabku mantap.
Beberapa menit kemudian aku pun turun untuk berangkat ke sekolahku yang baru. Sebelum berangkat aku berpamitan kepada orangtuaku yang baru. Setelah berpamitan langsung aku menuju halaman rumah.
        “ ini helmnya “ sodor kak Yudha.
        “ oh.. iya kak “ ucapku sambil mengambilnya dari tangan kak Yudha.

Sesampainya di sekolah,
        Aku digandeng oleh kak Yudha dari tempat parkiran menuju kelas dimana aku belajar. Tiba-tiba kak Yudha bertemu temannya dan dia memperkenalkanku kepada temannya.
        “ hey.. Rio “ sapa kak Yudha.
        “ hey.. yud “ sapa balik teman kakakku itu.
        “ eehh.. kenalin nih adik aku yang baru “ ucap kak Yudha memperkenalkanku.
        “ mira “ ucapku memperkenalkan diri.
        “ panggil ajah kak Rio “ ucap teman kak Yudha.
Setelah perkenalan itu aku langsung dibawa ke kelas tempatku belajar oleh kak Yudha. Didalam kelas baruku ternyata aku duduk bersama seorang pria bertubuh tinggi.
        “ mira.. nama kamu siapa? “ ucapku mengenalkan diri untuk memulai pembicaraan.
        “ Putra “ jawab cowok tersebut acuh.
Sepertinya teman sebangku ku tidak akan enak untuk diajak ngobrol, ucapku dalam hati.


 




Sepulang sekolah,
        Kakakku sudah menungguku didepan kelas. Dan aku melambaikan tanganku kepadanya. Dan dia hanya senyum kepadaku. Akhirnya pelajaran dikelasku berakhir juga.
        “ mir.. nanti kita ke toko buku ya? Aku mau nyari buku-buku soal untuk SNMPTN “ tawar kak Yudha.
        “ oke deh kak.. “ ucapku senang.


Sesampainya di toko buku,
        Sampai di toko buku aku dan kakak mencar, kakak mencari buku untuk SNMPTN dan aku cuma melihat-lihat novel di rak-rak toko buku tersebut. Setelah kakak membayar semua belanjaannya lalu dia mengajakku ke tempat makan. Kakak mengajakku makan yang namanya mie aceh katanya sih enak. Tadinya aku tidak memesan dulu setelah aku nyobain mie aceh punya kakak ternyata enak pedas lagi. Aku sangat suka makanan yang pedas-pedas. Akhirnya aku memesan mie aceh juga.

Sesampainya dirumah,
        Langsung aku sandarkan diriku di sofa ruang tamu. Tetapi kakak langsung menuju ke atas. Setelah beberapa menit aku bawa diriku menuju kamarku. Sesampainya di kamar terlihat diatas kasurku sebuah novel dan penulisnya adalh penulis favoritku dan buku ini buku yang belum pernah aku baca.
        Tanpa babibu lagi langsung ku baca buku tersebut. Tetapi masih terlintas dipikiranku ini pemberiaan dari siapa. Setelah beberapa halaman dari buku tersebut aku baca, ternyata terdapat sebuah kertas. Di kertas tersebut tertulis from kakakmu tercinta sang cahaya kehidupan. Aku akan selalu menyayangi kakakku sebagai kakak tidak lebih walaupun dia bukan kakak kandungku. Cahaya kehidupan dibalik sebuah jendela itulah dia, ucapku dalam hati.




                                                TAMAT
       


Selasa, 18 Oktober 2011

Melodi Pianika Pada Sebuah Kertas

    Aku seorang gadis berusia 12 tahun Kelas 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Fira Kencana Sari itulah namaku. Aku terlahir dari keluarga yang selalu menyanyangiku. Keadaan kami sedikit miris karena ayahku keluar dari pekerjaan karena ibuku sakit. Aku tidak mengerti apa sakit ibuku itu, sakitnya seperti orang kesurupan. Dan ayahku harus selalu menjaga ibuku.
                                                           
                                                                          ***

    Pelajaran kesenian kali ini belajar tentang alat musik pianika. Bentuk alat musik ini seperti piano tapi lebih kecil dan cara memainkannya dengan ditiup. Ketika itu guru kesenianku Bu Dewi menganjurkan murid-muridnya untuk membeli alat musik pianika. Untuk orang berkecukupan mungkin tidak berat untuk membeli alat musik tersebut. Tapi aku bingung karena orang tuaku tidak mempunyai banyak uang. Tidur saja kami numpang di rumah nenek.
   Tetapi untungnya di sekolahku menyediakan beberapa pianika. Akhirnya aku pun meminjam pianika di sekolah, dan meminjamnya pun harus penuh perjuangan karena di sekolahku juga masih banyak yang tidak mampu. Jadi kadang-kadang aku suka berebutan untuk meminjam pianika di sekolah. Sebenarnya aku sedikit jijik juga meminjam pianika di sekolah karena pianika itu banyak orang yang memakai jadi banyak bekas mulut orang-orang di pianika tersebut.
   " Besok kita ujian kesenian anak-anak. Memainkan alat musik pianika dengan lagu nasional " pemberitahuan dari bu Dewi tersebut membuat ku bingung. Bagaimana aku latihan menggunakan pianika sedangkan aku tidak mempunyai pianika.

                                                                           ***

Sesampainya di rumah,
    Aku istirahat sebentar karena lelah seharian beraktifitas di sekolah. Lalu aku berfikir aku latihan pianika dengan cara merobek sebuah kertas dan menuliskan not-not yang terdapat pada pianika berurutan seperti seolah-olah pianika. Sambil melihat not lagu ibu kita kartini di buku lagu nasional tanganku bergerak seolah-olah menekan tuts dari pianika.Dengan cara itu aku dapat hafal memainkannya.

Keesokan hari,
    Bel berbunyi tanda masuk sekolah. Pelajaran pertama kali ini pelajaran kesenian. Aku segera menuju ruang guru untuk meminjam pianika tetapi sialnya pianika itu sudah habis dipinjam sama yang lain. Dengan rasa kecewa aku menuju mushola aku duduk di sudut mushola tersebut sambil menekuk kakiku menutup muka akhirnya air mataku tumpah saat itu.
   Datang seorang pria berbaju putih biru.
" kamu kenapa menangis? " tanya kaka itu sambil menyodorkan tisu.
" aku gak papa kok kak " jawabku sambil terisak.
" kamu beneran gak papa? kayaknya sedih banget kalau kamu butuh curhat curhat ajah aku mau kok mendengarkannya " tanya kaka tinggi itu.
" eehh.. aku sekarang lagi ulangan kesenian memainkan alat musik pianika tapi orang tuaku tidak mempunyai uang untuk membeli alat musik itu ".
" kebetulan aku bawa pianika, kamu boleh meminjamnya " tawar kaka itu.
" beneran kak terima kasih ya kak " aku bersenyum senang kepada kaka itu.
" tunggu sebentar biar kaka ambil dulu "
" nih.. dek pianikanya " sodor kaka kelas itu.
" kapan aku mengembalikan pianika ini? " tanyaku.
" nanti pulang sekolah aku tunggu di pos "
" oke kak " girangku.
   Tidak terasa pelajaran pun berakhir. Saatnya pulang sekolah. Aku cukup puas karena nilai kesenianku lumayan bagus, ini berkat pianika kaka itu.
    Aku berjalan menuju pos satpam sekolahku. Terlihat di seberang sana kaka penyelamatku. Aku langsung tersenyum kepada kaka di seberang sana.
" gimana pelajaran kesenian tadi? " tanya kaka itu memulai pembicaraan.
" alhamdulillah nilainya memuaskan kak " jawabku dengan senyum selebar-lebarnya.
" baguslah kalau begitu " kaka itu pun ikutan senang melihat ku senang.
" ini kak pianikanya. Sekali lagi terimakasih ya kak " kataku.
" oh iya, nama kamu siapa? kelas berapa? " tanya kaka itu.
" nama aku Fira Kencana Sari kelas 7.3, panggil aku fira saja. Nama kaka siapa? kaka kelas berapa? " jawabku.
" namaku Andri aku kelas 8.3 " jawab kaka tersebut.
" oh yaudah kak aku pulang dulu nanti aku dicariin ibu " pamit ku kepada kak Andri.
" Nggak bareng ajah dek pulangnya? " tanya kak Andri.
" tidak usah kak, aku bisa pulang sendiri. Aku duluan ya kak " tolakku.

Sesampai di rumah,
    Aku merebahkan diriku di kasur untuk mehilangkan kepenatan karena capek seharian beraktifitas. Mataku memandang kepada kertas yang kubuat semalam untuk latihan pianika. Yang Allah terima kasih kau telah melancarkan hidupku terima kasih ya Allah.

                                                                 
                                                                        TAMAT

Senin, 17 Oktober 2011

Kecantol Anak Pesantren

     Semua berawal karena adanya kegiatan sekolah yang selalu ada pada saat bulan suci Ramadhan. Yaitu kegiatan Pesantren Kilat atau biasa disebut SanLat. SanLat kali ini berbeda dari biasanya, biasanya kita hanya diajarkan agama oleh guru-guru di sekolahku. Tetapi SanLat kali ini sekolah kami kedatangan anak-anak dari Pesantren terkenal di Jawa Timur yaitu Pesantren Darussalam Gontor mereka bersedia mengajar pada Sanlat kali ini.

Hari Pertama SanLat,
      Pagi begitu sejuk namun langit nan cerah, cahayanya menyemangatiku pada hari ini. Aku dan teman-teman berbusana muslim karena hari ini hari pertama SanLat. Saat masuk kedalam gerbang sekolah aku melihat beberapa Pria Berkemeja rapi seperti bersiap-siap untuk mengajar. Bel pun berbunyi, aku pun siap untuk memulai pelajaran. Lalu masuklah sesosok pria berkemeja kedalam kelasku.
   " Assalamu'alaikum " sapa kaka berkemeja itu.
   " Wa'alaikumsalam " jawab kami semua.
     Kaka berkemeja itu memulai mengajar dengan mengabsen kami semua. Kalau di perhatikan Kaka itu terlihat sedikit gugup tapi materi yang dia berikan cukup berkesan. Bel tanda pergantian jam pun berbunyi, lalu masuklah wali kelasku dia menginformasikan tentang perlombaan besok. Dan aku terpilih untuk mengikuti perlombaan cerdas cermat agama. Aku cukup senang karena dapat berpartisipasi pada kegiatan perlombaan esok hari.
    
Hari Kedua SanLat,
     Pada hari kedua SanLat kami masih diajarkan oleh kaka pesantren itu. Aku cukup senang diajarkan oleh mereka karena pengetahuan tentang agama mereka cukup luas mungkin karena memang mereka anak pesantren. Bel pun berbunyi menandakan waktu pulang sekolah, dan bagi yang ikut lomba tidak dibolehkan pulang dulu karena lomba akan dilaksanakan setelah pulang sekolah.
    Aku pun menunggu di bawah pohon mangga sekolahku bersama Hana yang kebetulan dia yang mendampingiku dalam lomba cerdas cermat sampai ada pemberitahuan kalau lomba akan dimulai. Lomba yang kujalani terasa begitu sangat cepat dan beruntungnya kelasku menang pada lomba kali ini. Tidak sia-sia aku belajar setengah mati semalam.

Hari Ketiga atau Terakhir SanLat,
   Seorang kaka berkemeja coklat masuk kedalam kelasku sepertinya dia akan mengajar di kelas kami. Kalau dilihat dari mukanya aku tidak terlalu yakin dengan kaka ini. Ternyata dugaanku benar dia hanya menulis sebuah catatan di papan tulis dan kami disuruh mencatat apa yang dia tulis di papan tulis. Setelah semua selesai mencatat dia memberikan sebuah permainan yang tidak aku mengerti sampai sekarang. Lalu dia bertanya kepadaku dalam sebuah pertanyaan itu, tapi aku tidak mengerti maksudnya. Dia bertanya terus hingga bel pun berbunyi. Sebenarnya aku agak jengkel juga dengan kaka satu ini.
   Setelah sholat Dzuhur akan ada acara berakhirnya SanLat di sekolahku. Acara itu diisi dengan penampilan dari kaka gontor-gontor. Aku begitu terpesona saat kaka yang tadi mengajar di kelasku yang hampir membuat ku jengkel tampil dengan beladirinya. Mungkin karena aku juga suka dengan bela diri aku sangat terpesona kaka itu menampilkan beladiri yang sangat memukau sampai aku memvideo dia.

Sampai di rumah,
   Tidak ada bosen-bosennya aku melihat video penampilan kaka yang tadi mengajar ku pagi tadi.
seminggu kemudian aku berniat untuk mencari-cari akun facebook kaka gontor. Aku menemukan cuma beberapa akun kaka-kaka gontor. Tapi aku belum menemukan akun facebook kaka yang aku kagumi. Beberapa hari kemudian saat aku membuka facebook ada 1 permintaan teman. Menurutku akun yang menge-add akun ku itu namanya agak sedikit aneh dan foto profilnya tidak begitu jelas tapi rasanya aku pernah liat orang itu. Akhirnya aku mengkonfirmasi akun tersebut.
   Lalu aku ingin membuat sebuah status. Setelah beberapa lama aku melihat di pemberitahuanku orang yang barusan aku konfirmasi mengomentai statusku. Dia menanyakan kok aku belum tidur, dia menanyakan begitu karena aku juga membuat statusnya pada malam hari. Dalam hati aku hanya bertanya siapa sih sebenarnya ini orang. Setelah aku perhatikan kembali foto profilnya, ternyata dia adalah kaka yang hampir membuat aku mati kutu di kelas yang tidak bisa menjawab pertanyaan hingga bel berbunyi.
   Hampir setiap statusku dia komentari akhirnya aku membalas komentar dari dia. Dan lama kelamaan kita semakin dekat dalam dunia maya, sampai akhirnya dia memberi nomor telepon dia kepadaku. Dan kita berlanjut kepada SMS.
   Sampai pada akhirnya dia harus balik ke pesantrennya. Dia hanya berpesan kepadaku agar aku menjaga diriku baik-baik. Sebelum dia pulang, dalam ucapan-ucapan di smsnya begitu perhatian kepadaku. Dan akhirnya aku merasa sebuah perasaan yang biasa orang bilang cinta. Tetapi aku tidak tahu itu perasaan apa. Setelah beberapa lama dia pergi aku begitu merindukannya sangat merindukannya aku kangen kata-katanya, perhatiannya dan yang lainnya. Aku hanya bisa berdoa dia cepat balik ke sini lagi.